v. puisi liris

Dia, Sangkarib dan Sekarung Kapas

1/
Seorang diri.
Dia menaiki perahu kecil yang
pelan merangkak,
menuju tengah lautan.

Sesekali tergopoh-gopoh.
Tangannya menggerakkan dayung,
mempertahankan agar dadanya selalu menghadap kiblat

Tiga hari tiga malam.
Terus begitu.
Tak berhenti begitu.
Kecuali perutnya lapar
Kecuali matahari memberitahu bahwa
waktu shalat tiba.

Tak berhenti begitu.
Meski sengatan terik membakar kulit arinya yang
sudah tidak muda,
atau guyuran hujan yang
menggigilkan tubuhnya yang
tak lagi perkasa.

Selalu dengan wajah menunduk lamur.  Mulut tak berhenti bergerak-gerak, bersuara lirih: Menggumamkan istighfar.  Datar.  Tanpa nada.  Statis,  Satu gumam istighfar, satu butir garam dia lempar ke laut. Terus-menerus.  Sampai tenggorokannya mengering. Sampai garam dalam gantang menipis. Habis.

Satu,
Ya. Hanya satu yang dia harapkan.
Tuhan tiba-tiba iba,
lalu mengampuni segala kesalahan yang
makin hari  makin meruah.

Atau,
Tuhan menjadi pemurah,
lalu memberinya sekarung maghfirah.

2/
Tiga hari yang lalu.
Dia bertanya pada Sangkarib,

Apakah Tuhan akan memaafkanku ?.
Setelah  sekian lama aku meninggalkanNya?.
Apakah Tuhan mengutukku ?.
Setelah sekian waktu aku mengkhianatiNya ?. Sangkarib hanya diam.
Tak menjawab.

Dengan bahasa isyarat, Sangkarib mengajaknya berjalan keluar dari Surau. Berdua.
Beriringan menuju pantai.

Lalu.
Sangkarib berkata:
”Bawalah segantang garam ini.
Bawalah perahu kecil itu menuju ke laut.
Sesampai engkau di tengah lautan, menghadaplah ke kiblat.
Lalu, ambil sebutir demi sebutir garam dan lemparkan ke laut.
Ikutilah setiap lemparanmu dengan bacaan Istighfar “.

“Begitu seterusnya.
Jangan kembali ke surau untuk menemuiku.
Kecuali garam dalam gantang itu habis tak bersisa.
Semoga tenggorokanmu menjadi kering karena ucapan istighfarmu.
Semoga Allah mengampunimu, memaafkanmu”.

Dia tak membantah. Meskipun dia tahu. Ini bukan cara beristighfar yang lazim.  Mungkin
ini satu-satunya tawassul  terbaik, untuk mengiba permaafan dari-Nya. Begitu pikirnya.
Tiga hari  yang lalu.

3/
Gantang garam itu telah kosong.
Bersih tak bersisa.

Segera.
Dia membawa sampan menepi.
Menuju pantai kembali.
Menuju  surau.
Menemui Sangkarib.

Dengan wajah bergurat pucat, dia bersila di hadapan Sangkarib. Berkata dengan suara yang berat: ”Setelah apa yang kulakukan, apakah kiranya Tuhan mengampuni kesalahanku?” .

4/
Sang Karib tak menjawab
Hanya diam.
Dingin.
Namun tetap dengan mata yang
menyorot tajam.
Ke arahnya.

Cara menatap yang makin menampar kesadaran.
Mencabut satu persatu semua kehormatan.
Tanpa jeda, tanpa sisa.

5/
Pikirannya mengembara. Menuju ruang gelap. Lalu: Hllhhaappp !! Sebuah screen film. terhampar di hadapannya: Kalaedoskop kehidupan yang dilaluinya diputar ulang.  Detail.  Tak ada yang terpotong atau tersensor.  Semuanya: Oh.. alimnya dia. Salehnya dia….  Di masa mudanya….

..Mungkin saja.
Tiba-tiba dia seperti berucap sendiri.
Menjawab pertanyaan yang pernah ditanyakan kembali
kepada Sangkarib  beberapa saat lalu.

Tapi. Ya, tapi. Telah  lama. Tuhan dia tipu:
Alim di setiap tampilan layar televisi. Bijak di depan mikrofon.
A family man di forum ibu-ibu. Murah senyum saat melambaikan tangan kepada khalayak. Santun di atas podium. Religius saat berada dalam forum ormas keagamaan. Fasih menderaskan ayat suci di ruang publik. Khusuk saat sorot kamera menyapu dalam acarat peringatan hari-hari besar keagamaan.

Tapi. Di balik itu.
Jiwanya mengagamakan  patgulipat perburuan kekuasaan..
Bertahun-tahun  politik menjelma menjadi Tuhannya; Uang menjadi nabinya;
laporan lembaga survei menjadi kitab sucinya, dan sang istri menjadi Jibrilnya.

Sudah lama.
Kebiasaan gelengan kepala, karena transeden dalam zikir di tempat yang hening. Berubah menjadi ekstase orasi saat lampu kamera televisi menyorotnya.

(Kerap kali juga dia transeden dalam hingar-bingar panggung hiburan sambil ditemani para rupawan yang didatangkan agensi penjual moral)

Sudah lama.
Zakat sedekahnya tak lagi disalurkan di rumah piatu  atau penghuni rumahrumah kardus.
Melainkan mengalir deras  ke dalam rekening para agensi  penjual massa.

(Kerap kali juga dia salurkan kepada para molek yang rapi-jali tersimpan dalam apartemen-apartemen tersembunyi)

Sudah lama.
Sa’i-nya) tak lagi melewati rute perjalanan Dewi Hajar, saat mencari air pembuang dahaga Ismail kecil.  Melainkan rute-rute pembicaraan setengah kamar  bersama para gangster berseragam partai politik dan ormas primordial.

(Kerap kali juga dia menyusuri bentangan padang rumput hijau, sambil ditemani para caddy yang pusarnya menggemulai manja).

Di tempat-tempat seperti itu :
rupiah dan dolar tanpa nomor seri.
Mengalir deras di bawah meja.
Tanpa jejak catatan.

Di tempat seperti itu:
Berbagai kata sandi diciptakan
Agar transaksi rapat tertutup isolasi dan anjing pengendus menjadi tak berhidung.

Di tempat seperti itu:
Segala topeng dikenakan.
Agar malaikat pencatat makin tak mengenali.
5/
Tiba-tiba suara Sangkarib
menghentikan kecamuk pikirannya,
memecah kesunyian surau:
”Kawan, lihatlah sekelilingmu.

Lihatlah dengan mata hati.
Bukan dengan mata statistika.
Bukan dengan hitungan rating pesona yang mengakibatkan perolehan suara partaimu melejit tajam ”.

Tengoklah gang-gang kumuh.
Datangi rumah-rumah tiap pengikutmu.
Kunjungi emperan-emperan toko.
Tempat tinggal abadi mayoritas rakyatmu.

Berhentilah di lampu merah.
Tengoklah pengamen anak-anak dan pengemis yang semakin banyak.”.

Telusurilah satu persatu nurani mereka.
Bukan fisik mereka.

Datangi semuanya.
Jangan ada satu pun yang terlewati.
Semuanya.
Semua orang yang mempercayaimu. Semua jiwa yang telah memintamu untuk menjadi pemimpinnya .

6/
”Kawan.
”Mungkin Tuhan telah memaafkanmu.
Dengan sebaik-baik permaafan.

Namun, tahukah engkau!.
Hanya orang bodoh yang berusaha keras menggarami lautan. !
Hanya orang tak berakal yang mencoba menebar garam di pusat garam itu dibuat.!
Itulah dirimu.!.
Dirimu lima tahun lalu.
Kamu mengira telah melakukan hal besar. Kamu mengira kebijakan yang lahir dari tanganmu membuka pelurusan hukum,  menaikkan angka kepercayaan investasi, mencuatkan pendapatan per kapita, meninggikan angka kemakmuran, menolong orang miskin.
Padahal.
Semuanya adalah kesia-siaan.

7/
” Kamu bersusah payah melakukan sesuatu yang kamu anggap besar. Kamu merasa telah berbuat banyak. Padahal hanya menggarami lautan. Itulah dirimu. Dirimu  bersama lima tahun kekuasaanmu”.

8/
Tengoklah tokoh idolamu di masa kecil. Umar bin Khatab. Sendirian meronda gang-gang sempit di wilayah kekuasaannya hamper tiap malam.  Sendirian pula yang ia panggul gandum atau kurma untuk diserahkan kepada warganya yang luput dari kesejahteraan.
Tengoklah tokoh idolamu di masa muda. Ummar bin Khattab. Khalifah yang bila sudah selesai menjalankan tugas kenegaraannya, segera mengganti lampu penerangan, alat transportasi dan menanggalkan semua fasilitas Negara dengan peralatan hidup pribadi yang sederhana.
Tengoklah tokoh idolamu sebelum dirimu menjadi pemimpin
Tengoklah..!
9/
Dia makin tergeming.
Tak beringsut.
Menunggu kalimat Sangkarib berikutnya.

Dia mulai tahu. Bahwa apa yang telah dia lakukan di atas perahu kecil tiga hari lalu adalah kesia-siaan. Laut tak butuh digarami. Dia tahu pula,bahwa Tuhan memang Maha Pemaaf. Tapi puluhan bahkan ratusan atau jutaan orang yang telah dia tipu melalui politik salon dan kejaiman sekian lama tersebut,  tak akan gampang untuk memberinya maaf.

10/
Sangkarib mendekatinya.
Mendekap tubuhnya. Kemudian melepaskan rangkulannya, dan berkata pelan:
”Kawan. Mungkin Tuhan telah memaafkanmu. Dengan sebaik-baik permaafan. Meski setiap hari engkau menipu-Nya berkali-kali. Karena Tuhan memanglah Maha Pemaaf.

Namun, puluhan ataupun hampir ratusan juta orang yang kamu tipu, mereka tak akan pernah memaafkanmu. Sekarang atau nanti “.

11/
Sekarang makanlah,  Makanlah hidangan yang kupersiapkan ini

12/
Setelah itu,
Ambillah kapas dalam karung  kecil di sudut gudang.
Bawalah”
” Kemudian naiklah ke bukit itu.
Sesampai engkau di puncaknya, ambil sejumput demi sejumput.
Tiupkanlah ke udara
Ikutilah setiap tiupannya dengan mengingat-ingat wajah orang-orang yang telah kau perdayakan.
Ucapkan  permintaan maaf  kepada wajah-wajah tersebut.

Begitu seterusnya.”
Jangan berhenti.
Hingga kapas di dalam  karung kecil tersebut habis.

Ya. Ucapkan permohonan maaf kepada mereka semua.
Agar orang-orang yang kamu sengsarakan secara struktural.
Agar orang-orang yang dinistakan kehidupannya,  Agar orang-orang yang terkena dampak sistemik dari kebijakan politik selama lima tahun kekuasaanmu.
Memaafkan kebijakanmu.
Memaafkan kesalahanmu.
13/
..Lalu
Setelah kapas di  kecil tak bersisa.

Turunlah.
Turunlah dari bukit
Kumpulkan setiap kapas yang kamu tiup sebelumnya.
Masukkan kembali ke dalam  karung  kecilmu.

Jika kapas yang engkau tiupkan tersebut telah engkau temukan semuanya.
Dan karung kecilmu penuh kapas seperti sediakala.

Maka
Hampir aku pastikan.
Puluhan.
Ratusan.
Ribuan.
Atau bahkan jutaan orang yang telah kau sengsarakan hidupnya.
Akan memaafkanmu….”.

14/
Oh, iya. Aku akan menjawab pertanyaan yang tersimpan dalam hatimu sepulangmu dari mengumpulkan kapas yang telah kau tiup di atas bukit itu,
lanjut Sangkarib sambil menunjuk ke arah bukit yang jaraknya hanya selemparan batu itu.

15/
Dia terdiam.
Mulutnya terkatup.
Telinganya mengunci.
Nafasnya nyaris terhenti.
Rasa sesak di dadanya yang
tadi mulai ringan,
kini memberatinya lagi.

Tidak.
Dia tidak sedang pingsan.
Dia masih sadar.
Meski nafasnya seperti tak melewati paru-parunya lagi.

Hening.
Senyap.
Hanya suara degup jantungnya saja yang terdengar.
Makin lama makin keras berdegup.

Lalu. Perasaan yang tak terdefinisikan meluncur deras begitu saja. Kali ini tak lagi bisa dia cegah. Hanya gerakan tangan kanannya,  yang berusaha mengusap tetesan kecil air yang makin deras  keluar dari bagian dalam matanya.

16/
Dia mengerti makna kalimat perintah Sangkarib. Dia mulai mengerti bahwa keburukan yang keluar dari kebijakan politiknya tak akan pernah mampu dikontrol pergerakannya. Seperti kapas yang akan ditiupnya.

17/
Kini dia melangkah.
Menuju bukit.
Untuk meniupkan helai demi helai kapas.
Untuk meniupkan semua kapas yang ada di dalam karung kecil yang dipanggulnya.
Sekaligus mengumpulkannya kembali.
Sampai karung kecil kapasnya penuh.
Seperti sediakala

Terus saja dia melangkah.
Menuju bukit
Kali ini
Tidak dengan harapan baru.
Seperti ketika dia menuju tepian pantai tiga hari yang lalu.
Melainkan dengan kepasrahan yang menjelma menjadi keputusasaan baru.

Makin jauh dia melangkah menuju bukit.
Makin jauh jarak bukit yang ditujunya.

Bukit itu seperti berjalan menghindarinya
Bergerak lebih cepat.
Melebihi kecepatan langkahnya yang
makin melambat.
Makin tak bertenaga.
Lunglai.

18/
Tittt..tiiiitttiiit.
Suara mesin pendeteksi detak jantung berkedip cepat.
Bergerak naik turun.

Dia membuka mata.
Tak ada Sangkarib.
Tak ada pantai.
Tak ada bukit.
Tak ada karung kapas kecil
Hanya seorang dokter. Didampingi beberapa perawat. Serta berbagai macam selang menempel di tangan, mulut dan saluran pembuangannya. Semua terhubung dengan mesin yang bermonitor.

Di belakang paramedis, tampak istri dan anak-anaknya. Juga menantunya. Wajah mereka seragam: sembab seperti orang yang sudah kehabisan air mata.  Mulut mereka seragam: berkomat-kamit seperti sedang melafalkan sesuatu. Pandangan mata mereka juga seragam: pandangan kegelisahan.
Sudah delapan belas hari dia terkapar di rumah sakit. Kehilangan kesadaran. Sejak sebuah komisi anti korupsi menetapkannya menjadi tersangka.
Matanya menerawang.
Mengapa dia seperti sedang berada di rumah sakit?
Mengapa banyak orang yang tak dia kenali berada di sekelilingnya?
Mengapa mereka menangisinya?

Ke mana  karung kecil berisi kapas yang dipikulnya?
Ke mana Sangkarib?

Sangkarib?
Hah !?

Bukankah  dia tak pernah memiliki karib?  Bukankah tempat mengajinya di masa kecil adalah daerah persil. Bukan  di sebuah kampung yang berdekatan dengan pantai? Bukan pula di sebuah kampung nelayan yang berdekatan dengan perbukitan?

17/
Tiba-tiba dia teringat wajah Sangkarib. Ya Sangkarib. Wajahnya sangat dia ingat sekarang. Hidungnya, matanya, rambutnya, bahkan postur tubuhnya.  Mengapa sangat mirip dia?  Mengapa postur tubuhnya juga tinggi besar sepertinya?  Ya dia ingat betul. Ya Sangkarib itu sangat persis dengan dirinya. Atau jangan-jangan

Makin meremang pandangannya. Meremang. Tak terlihat lagi wajah-wajah yang tadi dilihatnya. Makin meremang. Lalu. Terdengar  suara koor dengan nada tak jelas.  Bukan. Itu bukan suara koor paduan suara, melainkan suara orang menahan tangis.

Kemudian terdengar lamat-lamat suara orang mengucapkan sesuatu di dekat telinganya. Suara seseorang melafalkan sesuatu.
Tak jelas. Gelap.
.
End/

guspar wong